Flu H1N1, Kondisi WA Sudah Membaik

Kompas.com - 25/06/2009, 17:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pria berinisial WA (37) yang menjadi orang Indonesia pertama yang terjangkit virus H1N1 atau populer disebut flu babi, hari ini dinyatakan sudah membaik. Saat ini pilot salah satu maskapai ini dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Suroso (RSPI), Jakarta Utara.

"Dia sudah seperti orang sehat. Tidak lagi demam, pilek ataupun batuk. Tidak ada keluhan," kata Direktur Utama RSPI Dr Sardikin Giriputro, Sp P MARS, di Ruang Rapat RSPI, Kamis (25/6).

Menurut Sardikin, sampai saat ini WA tetap dirawat sampai ia benar-benar dinyatakan negatif mengidap virus H1N1. "Tetap kita rawat supaya jangan sampai menularkan kepada orang lain," ungkap Sardikin yang didampingi Direktur Medik dan Keperawatan RSPI Dr Hendrik.

Sebelum dinyatakan positif mengidap virus H1N1, WA baru saja menjalani serangkaian tugas dari negara-negara yang terpapar flu babi, yaitu Singapura, Hongkong, dan Australia. Sepulang dari Singapura, ia mengeluh kena demam dan atas inisiatif sendiri minta dirawat di RSPI pada Jumat (19/6).

Selain WA, saat ini RSPI juga merawat 5 orang lain yang diduga mengidap virus H1N1. Mereka adalah SL (68) warga negara Amerika, GE (33) warga negara Filipina, serta 3 orang warga negara Indonesia asal Lampung: E (48), T (20), dan A (18). Para pasien ini ditempatkan di ruangan isolasi khusus di RSPI.

Tekanan udara di ruangan tersebut dibuat negatif supaya tidak ada udara yang bisa ke luar ruangan. Untuk menghindari virus apa pun keluar dari ruangan pasien, terdapat alat penyedot udara yang dilengkapi HEPA filter yang mampu menyaring partikel sekecil apa pun.

Para petugas yang akan menangani pasien harus melengkapi diri dengan masker, kacamata, gaun khusus, dan sepatu bot yang telah disediakan di ruangan antara, sebelum masuk ke ruang pasien sesungguhnya. Ketika petugas masuk, pasien menggunakan masker untuk mencegah risiko penularan.

"Ada banyak tim dokter yang menangani. Salah satu tim dokter terdiri dari 3 dokter ahli paru yang menangani satu pasien secara bergantian," pungkas Sardikin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau